ANTARA TRADISI DAN KEYAKINAN TEOLOGIS: REINTERPRETASI AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG PENGGUNAAN JIMAT DALAM KEHIDUPAN MUSLIM
DOI:
https://doi.org/10.63424/amsal.v3i3.747Keywords:
Amulet, Al-Qur'an, Islamic creed, MonotheismAbstract
The practice of wearing amulets is still widely found in the lives of Muslim communities as a means of obtaining protection, healing, good luck, or repelling various forms of danger. This phenomenon causes problems because there are differences between the cultural practices that develop in society and the principles of monotheism taught in the Al-Qur'an. Therefore, this research aims to examine the Al-Qur'an's view of the use of amulets and explain the implications for Islamic faith. This research uses qualitative methods with a library research approach. Primary data was obtained from verses of the Qur'an relating to monotheism, shirk, and protection of Allah, while secondary data came from tafsir books, as well as scientific literature discussing the law of using amulets in Islam. Data were analyzed using a descriptive-analytical method by examining the relationship between the content of the verses of the Koran and the views of commentators and ulama regarding the practice of using amulets. The research results show that the Qur'an emphasizes Allah as the only source of protection, benefits and repels harm, so that the use of amulets which are believed to have supernatural powers independently is contrary to the principle of monotheism and has the potential to lead to shirk. This research also found that there are differences of opinion among ulama regarding the use of media containing verses from the Koran as a form of ta'awwudz or protection, but the majority emphasized that all forms of protection must remain completely relied on by Allah. Thus, correct understanding of the teachings of the Qur'an is an important basis for maintaining the purity of faith and preventing society from deviant religious practices.
Abstrak. Praktik pemakaian ajimat masih banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat Muslim sebagai sarana memperoleh perlindungan, kesembuhan, keberuntungan, atau menolak berbagai bentuk bahaya. Fenomena ini menimbulkan persoalan karena terdapat perbedaan antara praktik budaya yang berkembang di masyarakat dan prinsip tauhid yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pandangan Al-Qur’an terhadap penggunaan ajimat serta menjelaskan implikasinya terhadap akidah Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data primer diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tauhid, syirik, dan perlindungan kepada Allah, sedangkan data sekunder berasal dari kitab-kitab tafsir, serta literatur ilmiah yang membahas hukum penggunaan ajimat dalam Islam. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis dengan mengkaji hubungan antara kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dan pandangan para mufasir serta ulama mengenai praktik penggunaan ajimat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menegaskan Allah sebagai satu-satunya sumber perlindungan, manfaat, dan penolak mudarat, sehingga penggunaan ajimat yang diyakini memiliki kekuatan gaib secara mandiri bertentangan dengan prinsip tauhid dan berpotensi mengarah kepada syirik. Penelitian ini juga menemukan bahwa terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai penggunaan media yang memuat ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bentuk ta'awwudz atau perlindungan, tetapi mayoritas menekankan bahwa segala bentuk perlindungan harus tetap disandarkan sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian, pemahaman yang benar terhadap ajaran Al-Qur’an menjadi landasan penting dalam menjaga kemurnian akidah dan menghindarkan masyarakat dari praktik keagamaan yang menyimpang.












